WAKTU

JEDA

Kamis, 23 Oktober 2014

Esai Puisi Buat Denny JA


Esai Puisi buat Denny JA

Kakak Denny JA yang baik dan banyak uangnya. Sebenarnya saya tak sanggup menulis esai ini, karena saya tak sekaya kakak Denny JA yang banyak uangnya. Lagipula saya sedang tidak terpengaruh dengan kakak. Tapi apa boleh baut dan ulirnya, apa boleh buat dan tindakannya, saya merasa sedang melakukan percobaan, Kak. Ya, mirip-mirip ilmuwan di laboratoriumnya itu. Percobaan. Boleh dikata percobaan saya tidak dengan keseriusan yang ngaceng atau kengacengan yang kelewat serius. Tak perlulah itu saya kira. Sebab ketika kengacengan itu terganggu, orang mudah jadi kalap, lalu lapor aparat. Percobaan saya memang agak main-main sih. Tapi seringkali karya monumental justru dimulai dengan "main-main" bukan? Bukankah slogan, "Boeng, ayo, Boeng!" di lukisan Affandi yang fenomenal itu berasal dari keisengan Chairil Anwar yang terinspirasi dari kalimat yang digunakan para pekerja seksual di Kawasan Senen untuk menawarkan servis mereka ke para pria yang lalu lalang.

Begini percobaan saya. Kalau kak Denny JA mencoba bikin puisi esai yang ternyata gagal itu (tenang kak, masih ada harapan. Khan belum gagal total), dan Bang Saut Situmorang yang bajingan itu kemarin bikin pantun esai, maka saya baru saja mencoba bikin esai puisi. Bayangkan, esai puisi. Keren khan Kak sebutannya?! Esai puisi (cie…busungkan dada dikit). Sebuah esai yang dilengkapi catatan kaki. Tapi catatan kakinya bukan seperti “data sosial’ seperti puisi esai. Tapi catatan kakinya justru puisi. Entah pantun, haiku, sajak modern, prosa liris, dan lain sebagainya yang sejenis. 

Dan percobaan saya itu, Kak, saya temukan pertamakali ketika saya jongkok di kakus dan mengejan. Pas BAB itulah saya ingat Kakak dan haiku. Saya baru pertamakali ini loh bikin haiku(1). Dan temanya tentang Kakak. Maklum pemula, kalau haiku saya gagal, mohon dibina ya kak. Tapi tolong jangan dibinasakan. Apalagi dipenjarakan. Saya tahu kakak orang baik dan tidak sombong. Orang kaya dan banyak omong. Tapi penting dicatat, tidak sombong. Wajar tho orang kayak banyak omong. Yang penting tidak sombong. Sedang saya? Saya cuma salah seorang anak Indonesia(2) yang sedang belajar. Bukankah amat tidak pantas bukan, membinasakan murid yang sedang giat-giatnya belajar menulis esai puisi dan mencoba peruntungan siapa tahu bisa jadi ‘maha dasyat’ seperti puisi esai yang dielu-elukan tante Fatin Hamama (maha dasyat dari Hongkong?!). Sebab dengan esai puisi saya mencoba muvon kakak. Muvon.(3)

Esai puisi saya ini tentu saja tak bisa saya sebarluaskan dengan riuh gemuruh seperti pesta pernikahan Raffi dan Gigi itu. Seperti puisi esai itu. dilombakan, diyutubkan, diseminarkan dengan terbatas. Bayangkan berapa duit yang akan saya habiskan untuk itu. Bisa ambruk hidup saya, Kak. Kalo kakak yang baik tidak sombong dan banyak uangnya tentu tidak akan berpikir seperti saya. Buktinya, riuh pesta puisi esai terus membahana diseantero medsos, meskipun saya mendengarnya cuma satu hal. Berat sebenarnya ngomong satu hal itu karena sakitnya tuh di sini kakak, di sini (sambil nunjuk dada). Satu hal itu; Puisi esai ditolak. Dijadikan guyonan. Diledek-ledekin. Bermula karena masuknya kakak menjadi 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh. Apa hebatnya kakak Denny JA dan mbah Pramoedya Ananta Toer atau Chairil Anwar kok bisa dikelompokkan dalam satu buku menjadi sastrawan berpengaruh? Karena buku puisi Atas Nama Cinta itu? Yang dibacakan, diyutubkan, dilombakan resensinya hanya karena honornya gede-gede. Bukan karena orang secara intuitif tergerak untuk melakukannya karena karya tersebut memang bagus. Pemberian honor begitu tentu bikin ngiler siapa saja yang isi dompetnya sekaligus isi kepalanya sering lebih mirip kopiah. Kopong. 

Kak, orang tak bisa seenaknya membeli pengaruh seperti membeli telur puyuh. Pengaruh itu soal capaian seseorang dengan natural. Tidak dibuat-buat. Tidak dipaksakan. Orang boleh melakukan percobaan atas sesuatu yang dianggapnya genre baru. Tapi tak selalu berhasil bukan? Karena itu, mereka, sastrawan-sastrawan itu, yang berhasil kakak beli opininya, pernyataan, dan keputusan-keputusannya untuk memasukkan kakak dalam buku 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh hanya bagian kecil, sangat kecil malah, dalam jagad sastra Indonesia yang maha luas ini.
Melihat kegagalan puisi esai menjadi genre sajak berpengaruh maka saya mencoba bikin genre baru bernama esai puisi ini. Kakak mau membantu menyebarluaskan esai puisi saya? bikin lomba-lomba esai puisi gitu? Hem, kalo iya, bisa kita bicarakan. (mau nomor rekening saya?)

Sedangkan bekenaan dengan penolakan buku 33 tokoh sastra indonesia paling berpengaruh itu, di mana kakak nangkring di dalamnya, jangan berkecil hati . Selalu ada harapan. Selalu. Asal jangan main tikam dari belakang dan mau sedikit rendah hati masuk halaman orang. Misalnya, cobalah terima tantangan aliansi anti pembodohan itu soal debat terbuka atas buku dimana kakak masuk di dalamnya. Percayalah, orang sastra sebenarnya baik hati kakak. Asal pendatang tahu diri. Jangan congkak. Jangan seakan-akan bisa membayar segelintir orang sastra kakak bisa berlagak seenaknya. Itu tidak baik kakak. Apalagi dengan main adu ke polisi. Tapi kau memang itu mainan kakak ya apaboleh baut dan ulir-ulirnya. Kadang seorang politikus bisa sedikit curang ya? Sedikit main strategi mengalihkan perhatian. Oke sih. Tapi kakak masih ketahuan kok. 

Soal main sih, saya cukup main di jhengkah(4). Obyek wisata api alam dekat kampung saya. Tempat favorit saya. Kakak mau main sama saya? Kalau mau nanti kita bakar jagung berdua. Bang Saut nggak apa-apa nggak usah diajak. Cukup kirimi satu krat bir bintang. Dia pasti udah oh yes oh no. Sementara kita? Kita bisa bicara empat mata. Dari hati ke hati. Sapa tau saya bisa puk puk kakak. Atau dapat ide sehingga bisa bikin sajak temuan(5). Pasti seru dech. 

Demikian esai puisi saya. Kakak suka? Enggak!? Sama berarti. Kita impas. Karena saya emang nggak suka sama puisi esai. Beli bukunya aja enggak. Sebab saya ngintip sekali dua kali di website kakak ternyata biasa aja. Tapi kalo kakak suka esai puisi saya, kita jadi satu kosong. Karena saya tetep nggak suka puisi esai. Kecuali, kecuali, wani piro?


Catatan Kaki

(1) HAIKU
Lubang Kakus
Denny JA terpeleset
Plung!


(2) AKU ANAK INDONESIA
aku tidak sehat
tubuhku kumat
karena ibuku digusur aparat

sewaktu aku bayi hidup penuh polusi
makannya indomie kadang nasi basi

berat badanku kerempeng slalu
posyandu menunggu tapi tak membantu

bila aku diare
ibu slalu merana
pertolongan oralit
kalo duitnya ada


(3) MUVON
ketika kau pergi
cintapun pergi
buat apa memelihara yang tak pasti

tapi tidak dengan kerinduan
ia suka ikut jalan jalan naik delman
duduk di muka sambil dengarkan mp3
menyusuri sepanjang jalan kenangan
jalan dimana sms dari mantan
pilih opsen lalu delet pelan pelan

kerinduan itu lalu menjelma jadi bayangan
dalam tangis dalam kesedihan
kemudian melarut ke dalam malam
malam malam haru
malam malam penuh miskol
dari nomor nomor tak dikenal

tapi hanya pemberani
yang membiarkan cinta kembali
tanpa miskol atau sms kosong

tentu tidak berbagi denganmu yang dulu lagi
ke lain hati pasti

yang penting jadiannya
tetap di mekdi


(4) JHENGKAH DALAM SEBUAH SAJAK
semesta apa yang kini ada dalam dadamu?
tuhan pun tak akan tahu
meski Ki Moko membelah pusar bumi
lalu tanah menyemburkan api

api itu. api yang tak mati
kini mencipta rusuk rusuk kampung
dan tangis orang miskin yang berembun
sepasang pohon kapuk tua
dengan puluhan luka cinta di tubuhnya
masih di sana, di kelokan ketiga
terus meranggas dan meranggas
melawan lidah matahari
yang saban hari mencambuk bumi

masih ingatkah kau?
diantara pagar kaktus
dan bekas kolam belerang yang terputus
dadaku pernah menyentuh dadamu
kita terbakar di situ
hingga yang kita tanam runtuh
dan tak ada lagi yang tumbuh
setiap kali ada yang kita sentuh

atau kau masih terus berusaha melupakan setiap luka
hanya untuk ingin disebut selalu berbahagia?

tapi apalah kebahagiaan, gadisku
cuma kesedihan kesedihan yang tertunda
dan nasib kadang luput
memberinya airmata

api itu masih menyala
kadang begitu haru
kadang begitu lugu
seperti tangis anak bisu
kehilangan tekukurnya

aku tak akan melupakan dadamu
tak akan. seperti api itu
sebab dari jalan setapak yang pecah
diantara rumah rumah pengemis
dan bekas kuburan penjajah
aku menyimpan dadaku
yang hangus terbakar dulu
dan kini bangkit
menjilat jilat semesta
kepedihanku


(5) SAJAK TEMUAN
menidurimu di pagi buta
atau malam luka

sama saja

tubuhmu
yang lembut imut
seperti gugusan jembut itu
selalu meronta dan meronta
di sampingku

tiapkali tanganku memelukmu
kau menangis

seribu kunang kunang
keluar dari airmatamu
lalu seribusatu tuhan
berguguran
dari kutangmu

kunang kunang itu pergi
tiap hujan turun
sedangkan tuhan tuhan itu
menjelma jadi
genteng bocor

kau menggigil
dan menggigil

aku mendengkur
dalam baskom


20 Oktober 2014

Senin, 20 Oktober 2014

Tiga Tips Ampuh Menjadi Sastrawan Berpengaruh

Oleh: Edy Firmansyah

Di zaman serba cepat dan instant ini, selalu saja ada orang yang ingin terkenal dan booming dengan cara cepat. Tentu saja modalnya harus uang. Tapi nyatanya uang tak bisa membeli sepenuhnya sebuah popularitas. Sebuah ketenaran. Sebuah pengaruh. Uang memiliki keterbatasannya sendiri.

Apalagi di dunia sastra. Ternyata uang masih masuk dalam nomor kesekian ratus berapa dibandingkan karya dan ketekunan. Uang bisa melambungkan nama seseorang sedemikian tinggi dengan cepat, tapi dengan cepat pula menghembaskannya ke tempat manusia berpijak. Mirip air mancur. Cepat naiknya, cepat pula turunnya. Denny JA dan buku 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh itu contohnya. Tenar begitu singkat. Dicacimaki sedemikian hebat.

Ironisnya, bantahan atas masuknya Denny JA dalam buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" sekaligus bantahan atas isi buku yang dikerjakan tim 8 itu, bukan disikapi dengan debat terbuka, malah ditindaklanjuti dengan lapor polisi. Merasa tak tahan dengan ledekan dan sindiran, seorang sahabatnya (kalau tak mau disebut kaki tangan), Fatin Hamama, melaporkan pengkritik Denny JA yakni Saut Situmorang dan Sutan Iwan Sukri Munaf dengan tuduhkan “pencemaran nama baik.” Pelaporan itu kerena menurut sang karib Denny JA itu, dalam dunia Sastra, bahasa yang dipakai para pengkritik tidak pantas, tidak sopan, tidak tahu aturan dan sebagainya. Karena menurut pandangannya, dunia sastra itu santun, kemayu, unyu-unyu, kayak manten jawa. Kuat dugaan, tindakan pelaporan itu hanyalah upaya mengalihkan isu atas cacat akademik buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" yang terus dibeberkan para pengkritik Denny JA.

Sebenarnya kalau mau jujur dunia sastra nyatanya juga penuh ledekan dan cacian. Perkelahian. Pukulan. bahkan tonjokan. Tapi berkat itu semua seseorang bisa lantas terkenal sedemikian lama dan jadi populer dan berpengaruh di dunia sastra. Bukan hanya tingkat nasional pengaruhnya. Tapi bisa sampai nginternasional. Nah, tulisan ini hendak memberikan tips-tips khusus buat seseorang yang ingin populer dan terkenal sebagai sastrawan berpengaruh dan dikenang dunia.

Pertama, tirulah HB. Jassin. Begini ceritanya. Suatu hari Chairil Anwar, Sang Pujangga Indonesia itu, mendatangi sebuah tempat di mana kebetulan HB Jassin lagi latihan teater. Melihat akting Jassin, Chairil tertawa terpingkal-pingkal! Lalu dia teriak dari kursinya, "Woooi, Jassin, udah lah! Tak usahlah kau main teater. Tak ada bakat kau di situ. Hahaha!" Mendengar teriakan Chairil, Jassin emosi. Sebenarnya mau diempet, tapi tak tahan. Emosinya meluap. Lalu Jassin melabrak Chairil dan menonjok mukanya. Tapi setelah ledekan itu Jassin tak lagi main teater. Dan Sastra Indonesia pun kemudian memiliki tokoh arsipnya yang paling tekun dan paling berdedikasi tinggi. Orang menyebutnya Paus Sastra Indonesia.

Seandainya waktu itu Jassin lapor polisi, mungkin nasib akan berkata lain. Barangkali dia tak akan jadi paus sastra tapi benar-benar jadi Paus gereja atau paling banter kolektor buku tua.

Karena itu jika karyamu diledekin, dicaci-maki, dihina dina, datangilah penghinamu lalu tonjok mukanya. Tapi ingat, yang kau tonjok itu haruslah orang sekelas Chairil Anwar. Kalau yang kau tonjok Saya, ya jangan harap saya diam aja. Minimal akan saya tonjok balik.

Kedua, tirulah Chairil Anwar. Jadilah tukang caci-maki. bukan cuma HB. Jassin yang kena hunus lidah si binatang jalang yang lancip itu, cerpenis Idrus juga tak luput dari ledekannya. Begini ceritanya. Suatu hari Chairil Anwar, Sang Pujangga Indonesia itu, bertemu dengan cerpenis Idrus. Chairil lalu bilang ke Idrus: "Hei, Idrus, nama apaan nama kau itu? Masak nama Sastrawan "Idrus"! Nama macam itu cumak cocok buat nama tukang dokar! Kalok Sastrawan, namanya ya harus keren, gaul, kayak "Chairil Anwar"!"

Sekarang, siapa yang tak kenal Chairil? Bahkan anak sekolah yang tak ada minat sama sastra tahu Chairil Anwar, sang binatang Jalang, legenda pujangga Indonesia itu. Tapi saran saya untuk menjadi sekelas Chairil, jangan sembarangan mencaci. Cacilah yang sudah punya nama “besar.” Jangan mencaci Saut Situmorang. Mungkin jika cacianmu keren dan bisa diterima akal sehatnya, bakal dapat bir bintang gratis. Tapi kalau ngawur, kau pasti bakal dibikin tersungkur. Intinya mikirlah sebelum mencaci. Sebab menjadi seperti Chairil tidak sekali jadi, seperti mencari upil.

Ketiga, ini yang terakhir. Jadilah seperti Gabriel García Márquez. Penulis besar Amerika Latin. Peraih nobel sastra juga. Pengarang buku 100 tahun kesunyian yang terkenal itu. Begini ceritanya. Gabriel García Márquez dan Mario Vargas Llosa sahabat karib. Keduanya sastrawan besar Amerika Latin. Sama-sama peraih nobel sastra. Tak jelas ujung pangkalnya kemana kemudian keduanya bermusuhan hebat. Puncaknya, di sebuah bioskop di Meksiko pada 1976, dalam acara pemutaran perdana film karya René Cardona La Odisea de los Andes, begitu Vargas Llosa bertemu García Márquez, peraih nobel sastra asal Peru itu langsung melayangkan tinjunya ke muka García Márquez. Mata kiri García Márquez bengkak. Dan aneh bin ajaib bagai dalam novel-novel realis magisnya, seorang teman lari ke toko daging dekat situ, mengambil seiris daging, lalu menaruhnya di mata García Márquez yang lebam sebagai kompres!

Tapi Garcia Marquez tak pernah melaporkan sahabat karib yang sekaligus musuh bebuyutannya itu ke polisi. Dan hingga kini karya keduanya sama-sama dikagumi dan disegani dengan caranya masing-masing. Bahkan tanpa mereka, sastra Amerika Latin, bahkan sastra dunia, takkan menjadi seperti adanya kini.

Jadi jika anda ingin terkenal di dunia sastra, jika tak sanggup menonjok seperti Jassin atau Vargas Llosa, jika tak sanggup jadi tukang ledek macam Chairil Anwar, bersikaplah seperti Garcia Marquez. Terimalah tonjokan dengan tangan terbuka. Kalau bisa seperti laku para nabi. Kalau ditonjok mata kanan, ikhlaskan mata kirimu. Kalau yang ditonjok pipi kanan, berikan pipi kirimu. Kalau yang nonjok keroyokan, jangan lupa telepon ambulan. Dan mengenai aksi tonjok itu biarkan media meliputnya. Tapi ingat, yang nonjok harus punya karya besar sekaliber Llosa. Dan yang ditonjok harus gigih berkarya sekaliber Marquez. Jangan biarkan saya yang menonjok anda. Sebab saya yakin anda tidak akan jadi apa-apa. Sebaliknya, anda akan kecewa selama-lamanya.


 Edy Firmansyah
penulis unyu-unyu. penyair sambil lalu

Rabu, 10 September 2014

Candu

Candu

Seperti apa rasanya jika kita dicekoki makanan yang tak pernah kita sukai? Untuk sekali duakali sekedar untuk menghormati sang pencekok kita terima saja makanan itu masuk ke tubuh kita. Tapi kalau kegiatan cekok-mencekok itu sudah jadi rutin, pada akhirnya kita muntah juga. 

Begitulah, kali ini saya benar-benar muntah. Begini ceritanya. Akhir-akhir ini ibu saya mulai gemar menyaksikan segala bentuk acara motivasi. Yang paling rutin dilakukannya adalah menyaksikan acara Mario teguh the golden ways. Awalnya saya tak terganggu dengan aktivitas itu. Toh, saya punya aktivitas lain tiap kali pulang ke rumah ibu. Tapi aktivitas ibu saya itu mulai mengganggu aktivitas saya. Termasuk tidur. Ya, Pasalnya, setelah menonton itu, ibu malah menceramahi saya seperti layaknya Mario Teguh menceramahi pemirsanya. Saya tak tega sebenarnya. Dia yang membiayai hidup saya sebelum saya bisa mengais-ngais tanah dan mematuk makanan dengan ceker dan paruh saya sendiri, masak ceramah nggak dibayar. Satu dua kali tak mengapalah. Tapi lama-lama kegiatan itu malah menjadi rutin. Enak di Mario Teguh nggak enak di Ibu saya dong jadi tukang iklan gratisnya. 

Bahkan saya ‘diwajibkan’ turut serta menyaksikan acara tv motivasi yang sama sekali tak pernah saya sukai itu. Suatu kali usai menonton acara tv kesukaan ibu itu, saya akhirnya membuka ceramah. Sebelum ibu saya yang duluan ceramah, yang sebenarnya isinya sama dengan yang saya tonton bersamanya. Sambil ngemil kripik singkong dan menghisap kretek saya mulai ceramah saya. 

Sebenarnya saya mahfum saja kalau ibu demikian gemar menonton acara yang cuma menjual kebijaksanaan itu. Saya katakan menjual ya karena kebijaksanaan yang keluar dari basahnya mulut motivator tak pernah nirlaba. Satu dua kalimat bijak dari mulut motivator harganya bisa puluhan juta. Makanya jangan heran jika Mario Teguh sampai sekarang dikenal sebagai motivator termahal di Indonesia. Padahal kebijaksanaan yang dilontarkan para motivator itu hanyalah kebijaksanaan umum yang didaur ulang dengan aksesoris-aksesoris masa kini. Tak ada yang benar-benar baru. Tak akan jauh berbeda dengan kebijaksanaan yang keluar dari kiyai-kiyai kampung, atau tukang becak yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Juga tidak berbeda dengan kata-kata yang keluar dari sohib kita ketika kita putus cinta. Sambil memberik puk-puk ke bahu dia akan berkata; “ayo dong, jangan sedih. Kamu pasti bisa. Move on itu cuma perlu langkah pertama”

Kemahfuman saya tentu tidak tanpa alasan. Sebagai seorang istri pegawai yang telah satu tahun menjalani pensiun, kegamangan memandang hari depan ekonomi keluarga adalah kewajaran. Gamang menyaksikan kenyataan hidup yang sedemikian mahal dan beban hidup yang terlalu berat, seringkali memaksa manusia menggapai-gapai sekenanya, apa saja sekadar sebagai pegangan agar tidak roboh. Dan motivasi adalah jawaban yang ditawarkan oleh industri. Seolah-olah merupakan oasis yang teduh untuk sembunyi kenyataan ekonomi yang serba tak menentu. Padahal nyatanya cuma fatamorgana belaka. Sebab ketika motivasi menjadi bagian dari kerja industri, berarti ia adalah dampak dari persoalan ekonomi. 

Berdasarkan sejarah kemunculannya,  kata motivation baru muncul secara tertulis pada tahun 1873 dalam bahasa Inggris modern. Saat itu sedang terjadi kepanikan ekonomi yang diikuti depresi. Kegagalan perbankan, diikuti kegagalan dunia bisnis. Sementara masyarakat berada dalam ilusi bahwa segalanya sedang baik-baik saja, hingga akhirnya mereka berhadapan dengan kenyataan yang telah begitu rapuh. 

Hampir mirip dengan di Indonesia, Di Indonesia, fenomena motivator-motivator terkenal baru muncul pasca-krisis tahun 1998. Waktu itu tokoh-tokoh seperti Sudono Salim, dan Ciputra sangat disegani. Bahkan mereka kerap diundang istana negara untuk memberikan dorongan moril kepada anggota kabinet agar kinerja mereka membaik. Propaganda-propaganda “keberhasilan bisnis” kerap menjadi tema sentral dalam kebanyakan materi motivasi hingga sekarang. 

Kasarnya, motivator menjual apa yang yang “enak” didengar daripada yang “seharusnya” didengar. Menjual yang “indah” daripada yang “benar”, yang “diinginkan” daripada yang “dibutuhkan.” Ringkasnya, merekalah “ujung tombak” peredam gejolak emosi kelas menengah karena limbung diterpa krisis ekonomi yang terus menghantam ke segala lini. Tak bisa dibayangkan bukan ketika, krisis ekonomi memunculkan jutaan orang resah tumpah ke jalanan. Revolusi. Tak bisa dibayangkan berapa kerugian yang akan dihadapi kapitalis industri dalam keadaan semacam itu. Syukur-syukur bisa menyelamatkan diri, bahkan banyak sejarah revolusi, tak sedikit leher para kapitalis itu remuk dihantam cangkul petani-petani lapar yang hak hidupnya digilas roda kapitalisme yang kejam. 

Jadi tak perlu heran jika yang ada dalam kamus motivator adalah optimisme dan keyakinan buta; tetap semangat. segala akan baik-baik saja pada waktunya. Soal pendidikan mahal, kesehatan mahal, kenaikan harga BBM, kenaikan harga sembako tak ada dalam kamus motivator. Dan entah mengapa kita memang lebih suka dibohongi ketimbang dijujuri soal kenyataan ekonomi macam begitu. 

Makanya tak berlebihan jika motivasi hampir setali tiga uang dengan agama; tak perlu dibuktikan, cukup dipercayai. Buah dari kenikmatan akan kepercayaan atas sesuatu adalah keyakinan. Entah berisi atau tidak, terbukti atau tidak. Tentu bagi mereka yang terlalu mudah terpesona dengan kata-kata indah, motivator tak akan bisa salah, karena jika kata-katanya tak bisa dibuktikan, artinya kita yang belum cukup keras berusaha. Tanggalkan semua atribut bernama verifikasi dan falsifikasi sebagai dasar dari ilmu pengetahuan. Sebab jika kita masih membawa-bawa verifikasi dan falsifikasi sebagai alat uji dari setiap petuah motivator kita akan menghilangkan nikmatnya menyesap kepercayaan. Dan seperti paham akan kerapuhan dari pijakan bernama kepercayaan itu, para motivator selalu membangun argumennya dengan optimisme sebagai tiang pancangnya. 

Jadilah kemudian semua masalah, solusinya selalu berputar-putar pada optimisme yang taglid buta. Tak peduli bagaimana kenyataan yang sebenarnya. Tak peduli akar masalah yang saling berkait-kelindan, atau bertumpuk-tumpuk variabel yang seharusnya dipreteli. Semuanya berakhir dengan kesimpulan: kita belum cukup keras berusaha. Dengan kondisi yang demikian tak berlebihan kalau menyebut motivasi itu candu.

Mendengar ceramah saya yang sengaja saya berondongkan itu seperti SMS (senapan mesin sedang) jenis M-60 yang dipegang Rambo, adik dan ibu saya melongo. Sejenak. Dari sela-sela gigi kedua orang yang saya cintai itu terpampang wajah-wajah delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan. Dari bibir mereka yang kelu itu terdapat gurat wajah-wajah buruh upah murah yang sedang berebutan satu bungkus makan siang usai berdemo.

Sementara di mata ibu saya wajah saya mungkin sudah kelihatan seperti orang kerasukan. Ibu mengelus dada. Berkali-kali istighfar keluar dari mulutnya. Selanjutnya, bisa ditebak, saya dan ibu saya mulai tidak bertegur sapa. Mungkin karena saya mulai muntah dan ogah kecanduan motivator. Tapi tak lama. Toh, kami tetap akrab lagi seperti ibu dan anak. Kini, ibu saya sudah tak pernah nonton Mario Teguh. Kegemarannya yang lain, setelah bapak meninggal, menonton motivator religius: Yusuf Mansur!




TELUSUR

Loading...