WAKTU

JEDA

Senin, 20 Oktober 2014

Tiga Tips Ampuh Menjadi Sastrawan Berpengaruh

Oleh: Edy Firmansyah

Di zaman serba cepat dan instant ini, selalu saja ada orang yang ingin terkenal dan booming dengan cara cepat. Tentu saja modalnya harus uang. Tapi nyatanya uang tak bisa membeli sepenuhnya sebuah popularitas. Sebuah ketenaran. Sebuah pengaruh. Uang memiliki keterbatasannya sendiri.

Apalagi di dunia sastra. Ternyata uang masih masuk dalam nomor kesekian ratus berapa dibandingkan karya dan ketekunan. Uang bisa melambungkan nama seseorang sedemikian tinggi dengan cepat, tapi dengan cepat pula menghembaskannya ke tempat manusia berpijak. Mirip air mancur. Cepat naiknya, cepat pula turunnya. Denny JA dan buku 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh itu contohnya. Tenar begitu singkat. Dicacimaki sedemikian hebat.

Ironisnya, merasa tak tahan dengan ledekan dan cacimaki, seorang sahabatnya (ragu saya mau pakek kata kaki tangan), melaporkan para pengkritik Denny JA dengan tuduhkan “pencemaran nama baik.” Pelaporan itu kerena menurut sang karib Denny JA, dalam dunia Sastra, bahasa yang dipakai para pengkritik tidak pantas, tidak sopan, tidak tahu aturan dan sebagainya. Karena menurut pandangannya, dunia sastra itu santun, kemayu, unyu-unyu, kayak manten jawa.

Padahal dunia sastra nyatanya juga penuh cacian. Perkelahian. Pukulan. Tonjokan. Tapi berkat itu semua seseorang bisa lantas terkenal sedemikian lama dan jadi populer dan berpengaruh di dunia sastra. Bukan hanya tingkat nasional pengaruhnya. Tapi bisa sampai nginternasional. Nah, tulisan ini hendak memberikan tips-tips khusus buat seseorang yang ingin populer dan terkenal sebagai sastrawan berpengaruh dan dikenang dunia.

Pertama, tirulah HB. Jassin. Begini ceritanya. Suatu hari Chairil Anwar, Sang Pujangga Indonesia itu, mendatangi sebuah tempat di mana kebetulan HB Jassin lagi latihan teater. Melihat akting Jassin, Chairil tertawa terpingkal-pingkal! Lalu dia teriak dari kursinya, "Woooi, Jassin, udah lah! Tak usahlah kau main teater. Tak ada bakat kau di situ. Hahaha!" Mendengar teriakan Chairil, Jassin emosi. Sebenarnya mau diempet, tapi tak tahan. Emosinya meluap. Lalu Jassin melabrak Chairil dan menonjok mukanya. Tapi setelah ledekan itu Jassin tak lagi main teater. Dan Sastra Indonesia pun kemudian memiliki tokoh arsipnya yang paling tekun dan paling berdedikasi tinggi. Orang menyebutnya Paus Sastra Indonesia.

Seandainya waktu itu Jassin lapor polisi, mungkin nasib akan berkata lain. Barangkali dia tak akan jadi paus sastra tapi benar-benar jadi Paus gereja atau paling banter kolektor buku tua.

Karena itu jika karyamu diledekin, dicaci-maki, dihina dina, datangilah penghinamu lalu tonjok mukanya. Tapi ingat, yang kau tonjok itu haruslah orang sekelas Chairil Anwar. Kalau yang kau tonjok Saut Situmorang, ya saya percaya kamu akan ditonjok balik sampek KO.

Kedua, tirulah Chairil Anwar. Jadilah tukang caci-maki. Seperti Chairil mencaci Idrus. Begini ceritanya. Suatu hari Chairil Anwar, Sang Pujangga Indonesia itu, bertemu dengan cerpenis Idrus. Chairil lalu bilang ke Idrus: "Hei, Idrus, nama apaan nama kau itu? Masak nama Sastrawan "Idrus"! Nama macam itu cumak cocok buat nama tukang dokar! Kalok Sastrawan, namanya ya harus keren, gaul, kayak "Chairil Anwar"!"

Sekarang, siapa yang tak kenal Chairil? Bahkan anak sekolah yang tak ada minat sama sastra tahu Chairil Anwar, sang binatang Jalang, legenda pujangga Indonesia itu. Tapi saran saya untuk menjadi sekelas Chairil, jangan sembarangan mencaci. Cacilah yang sudah punya nama “besar.” Jangan mencaci Saut Situmorang. Mungkin jika cacianmu keren dan bisa diterima akal sehatnya, bakal dapat bir bintang gratis. Tapi kalau ngawur, kau pasti bakal dibikin tersungkur. Intinya mikirlah sebelum mencaci. Sebab menjadi seperti Chairil tidak sekali jadi, seperti mencari upil.

Ketiga, ini yang terakhir. Jadilah seperti Gabriel García Márquez. Penulis besar Amerika Latin. Peraih nobel sastra juga. Pengarang buku 100 tahun kesunyian yang terkenal itu. Begini ceritanya. Gabriel García Márquez dan Mario Vargas Llosa sahabat karib. Keduanya sastrawan besar Amerika Latin. Sama-sama peraih nobel sastra. Tak jelas ujung pangkalnya kemana kemudian keduanya bermusuhan hebat. Puncaknya, di sebuah bioskop di Meksiko pada 1976, dalam acara pemutaran perdana film karya René Cardona La Odisea de los Andes, begitu Vargas Llosa bertemu García Márquez, peraih nobel sastra asal Peru itu langsung melayangkan tinjunya ke muka García Márquez. Mata kiri García Márquez bengkak. Dan aneh bin ajaib bagai dalam novel-novel realis magisnya, seorang teman lari ke toko daging dekat situ, mengambil seiris daging, lalu menaruhnya di mata García Márquez yang lebam sebagai kompres!

Tapi Garcia Marquez tak pernah melaporkan sahabat karib yang sekaligus musuh bebuyutannya itu ke polisi. Dan hingga kini karya keduanya sama-sama dikagumi dan disegani dengan caranya masing-masing. Bahkan tanpa mereka, sastra Amerika Latin, bahkan sastra dunia, takkan menjadi seperti adanya kini.

Jadi jika anda ingin terkenal di dunia sastra, jika tak sanggup menonjok seperti Jassin atau Vargas Llosa, jika tak sanggup jadi tukang ledek macam Chairil Anwar, bersikaplah seperti Garcia Marquez. Terimalah tonjokan dengan tangan terbuka. Kalau bisa seperti laku para nabi. Kalau ditonjok mata kanan, ikhlaskan mata kirimu. Kalau yang ditonjok pipi kanan, berikan pipi kirimu. Kalau yang nonjok keroyokan, jangan lupa telepon ambulan. Dan mengenai aksi tonjok itu biarkan media meliputnya. Tapi ingat, yang nonjok harus punya karya besar sekaliber Llosa. Dan yang ditonjok harus gigih berkarya sekaliber Marquez. Jangan biarkan saya yang menonjok anda. Sebab saya yakin anda gak akan jadi apa-apa. Sebaliknya, anda akan kecewa selama-lamanya.


 Edy Firmansyah
penulis unyu-unyu. penyair sambil lalu

Rabu, 10 September 2014

Candu

Candu

Seperti apa rasanya jika kita dicekoki makanan yang tak pernah kita sukai? Untuk sekali duakali sekedar untuk menghormati sang pencekok kita terima saja makanan itu masuk ke tubuh kita. Tapi kalau kegiatan cekok-mencekok itu sudah jadi rutin, pada akhirnya kita muntah juga. 

Begitulah, kali ini saya benar-benar muntah. Begini ceritanya. Akhir-akhir ini ibu saya mulai gemar menyaksikan segala bentuk acara motivasi. Yang paling rutin dilakukannya adalah menyaksikan acara Mario teguh the golden ways. Awalnya saya tak terganggu dengan aktivitas itu. Toh, saya punya aktivitas lain tiap kali pulang ke rumah ibu. Tapi aktivitas ibu saya itu mulai mengganggu aktivitas saya. Termasuk tidur. Ya, Pasalnya, setelah menonton itu, ibu malah menceramahi saya seperti layaknya Mario Teguh menceramahi pemirsanya. Saya tak tega sebenarnya. Dia yang membiayai hidup saya sebelum saya bisa mengais-ngais tanah dan mematuk makanan dengan ceker dan paruh saya sendiri, masak ceramah nggak dibayar. Satu dua kali tak mengapalah. Tapi lama-lama kegiatan itu malah menjadi rutin. Enak di Mario Teguh nggak enak di Ibu saya dong jadi tukang iklan gratisnya. 

Bahkan saya ‘diwajibkan’ turut serta menyaksikan acara tv motivasi yang sama sekali tak pernah saya sukai itu. Suatu kali usai menonton acara tv kesukaan ibu itu, saya akhirnya membuka ceramah. Sebelum ibu saya yang duluan ceramah, yang sebenarnya isinya sama dengan yang saya tonton bersamanya. Sambil ngemil kripik singkong dan menghisap kretek saya mulai ceramah saya. 

Sebenarnya saya mahfum saja kalau ibu demikian gemar menonton acara yang cuma menjual kebijaksanaan itu. Saya katakan menjual ya karena kebijaksanaan yang keluar dari basahnya mulut motivator tak pernah nirlaba. Satu dua kalimat bijak dari mulut motivator harganya bisa puluhan juta. Makanya jangan heran jika Mario Teguh sampai sekarang dikenal sebagai motivator termahal di Indonesia. Padahal kebijaksanaan yang dilontarkan para motivator itu hanyalah kebijaksanaan umum yang didaur ulang dengan aksesoris-aksesoris masa kini. Tak ada yang benar-benar baru. Tak akan jauh berbeda dengan kebijaksanaan yang keluar dari kiyai-kiyai kampung, atau tukang becak yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Juga tidak berbeda dengan kata-kata yang keluar dari sohib kita ketika kita putus cinta. Sambil memberik puk-puk ke bahu dia akan berkata; “ayo dong, jangan sedih. Kamu pasti bisa. Move on itu cuma perlu langkah pertama”

Kemahfuman saya tentu tidak tanpa alasan. Sebagai seorang istri pegawai yang telah satu tahun menjalani pensiun, kegamangan memandang hari depan ekonomi keluarga adalah kewajaran. Gamang menyaksikan kenyataan hidup yang sedemikian mahal dan beban hidup yang terlalu berat, seringkali memaksa manusia menggapai-gapai sekenanya, apa saja sekadar sebagai pegangan agar tidak roboh. Dan motivasi adalah jawaban yang ditawarkan oleh industri. Seolah-olah merupakan oasis yang teduh untuk sembunyi kenyataan ekonomi yang serba tak menentu. Padahal nyatanya cuma fatamorgana belaka. Sebab ketika motivasi menjadi bagian dari kerja industri, berarti ia adalah dampak dari persoalan ekonomi. 

Berdasarkan sejarah kemunculannya,  kata motivation baru muncul secara tertulis pada tahun 1873 dalam bahasa Inggris modern. Saat itu sedang terjadi kepanikan ekonomi yang diikuti depresi. Kegagalan perbankan, diikuti kegagalan dunia bisnis. Sementara masyarakat berada dalam ilusi bahwa segalanya sedang baik-baik saja, hingga akhirnya mereka berhadapan dengan kenyataan yang telah begitu rapuh. 

Hampir mirip dengan di Indonesia, Di Indonesia, fenomena motivator-motivator terkenal baru muncul pasca-krisis tahun 1998. Waktu itu tokoh-tokoh seperti Sudono Salim, dan Ciputra sangat disegani. Bahkan mereka kerap diundang istana negara untuk memberikan dorongan moril kepada anggota kabinet agar kinerja mereka membaik. Propaganda-propaganda “keberhasilan bisnis” kerap menjadi tema sentral dalam kebanyakan materi motivasi hingga sekarang. 

Kasarnya, motivator menjual apa yang yang “enak” didengar daripada yang “seharusnya” didengar. Menjual yang “indah” daripada yang “benar”, yang “diinginkan” daripada yang “dibutuhkan.” Ringkasnya, merekalah “ujung tombak” peredam gejolak emosi kelas menengah karena limbung diterpa krisis ekonomi yang terus menghantam ke segala lini. Tak bisa dibayangkan bukan ketika, krisis ekonomi memunculkan jutaan orang resah tumpah ke jalanan. Revolusi. Tak bisa dibayangkan berapa kerugian yang akan dihadapi kapitalis industri dalam keadaan semacam itu. Syukur-syukur bisa menyelamatkan diri, bahkan banyak sejarah revolusi, tak sedikit leher para kapitalis itu remuk dihantam cangkul petani-petani lapar yang hak hidupnya digilas roda kapitalisme yang kejam. 

Jadi tak perlu heran jika yang ada dalam kamus motivator adalah optimisme dan keyakinan buta; tetap semangat. segala akan baik-baik saja pada waktunya. Soal pendidikan mahal, kesehatan mahal, kenaikan harga BBM, kenaikan harga sembako tak ada dalam kamus motivator. Dan entah mengapa kita memang lebih suka dibohongi ketimbang dijujuri soal kenyataan ekonomi macam begitu. 

Makanya tak berlebihan jika motivasi hampir setali tiga uang dengan agama; tak perlu dibuktikan, cukup dipercayai. Buah dari kenikmatan akan kepercayaan atas sesuatu adalah keyakinan. Entah berisi atau tidak, terbukti atau tidak. Tentu bagi mereka yang terlalu mudah terpesona dengan kata-kata indah, motivator tak akan bisa salah, karena jika kata-katanya tak bisa dibuktikan, artinya kita yang belum cukup keras berusaha. Tanggalkan semua atribut bernama verifikasi dan falsifikasi sebagai dasar dari ilmu pengetahuan. Sebab jika kita masih membawa-bawa verifikasi dan falsifikasi sebagai alat uji dari setiap petuah motivator kita akan menghilangkan nikmatnya menyesap kepercayaan. Dan seperti paham akan kerapuhan dari pijakan bernama kepercayaan itu, para motivator selalu membangun argumennya dengan optimisme sebagai tiang pancangnya. 

Jadilah kemudian semua masalah, solusinya selalu berputar-putar pada optimisme yang taglid buta. Tak peduli bagaimana kenyataan yang sebenarnya. Tak peduli akar masalah yang saling berkait-kelindan, atau bertumpuk-tumpuk variabel yang seharusnya dipreteli. Semuanya berakhir dengan kesimpulan: kita belum cukup keras berusaha. Dengan kondisi yang demikian tak berlebihan kalau menyebut motivasi itu candu.

Mendengar ceramah saya yang sengaja saya berondongkan itu seperti SMS (senapan mesin sedang) jenis M-60 yang dipegang Rambo, adik dan ibu saya melongo. Sejenak. Dari sela-sela gigi kedua orang yang saya cintai itu terpampang wajah-wajah delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan. Dari bibir mereka yang kelu itu terdapat gurat wajah-wajah buruh upah murah yang sedang berebutan satu bungkus makan siang usai berdemo.

Sementara di mata ibu saya wajah saya mungkin sudah kelihatan seperti orang kerasukan. Ibu mengelus dada. Berkali-kali istighfar keluar dari mulutnya. Selanjutnya, bisa ditebak, saya dan ibu saya mulai tidak bertegur sapa. Mungkin karena saya mulai muntah dan ogah kecanduan motivator. Tapi tak lama. Toh, kami tetap akrab lagi seperti ibu dan anak. Kini, ibu saya sudah tak pernah nonton Mario Teguh. Kegemarannya yang lain, setelah bapak meninggal, menonton motivator religius: Yusuf Mansur!




Kamis, 19 Juni 2014

" Cerita Tentang Sebuah Ledakan"

" Cerita Tentang Sebuah Ledakan"


ada yang meledak di udara
ada yang meledak

orang orang menutup mata
lalu mendongak ke angkasa

jalanan runtuh, gedung-gedung melepuh
orang orang melihat tuhan dari lubang sedotan yang jauh

seorang kepala negara mencungkil sepasang matanya
lalu jumpa pers dimulai;

"tak ada yang perlu ditakutkan. kemiskinan menurun dalam angka statisitik"

dia berbohong. dia berbohong.

di luar istana jutaan orang saban hari kelaparan.
di luar istana jutaan orang tidur di kandang hewan

"percayalah kita aman. kita aman. kita bangsa besar yang berdaulat"

sekali lagi dia berbohong. dia berbohong 

ketakutan ditebarkan negara tiap hari
emas, perak dan nikel dijarah di Papua

minyak dan batubara dijarah di Sumatera
jutaan masyarakat hutan kehilangan tanahnya

belatung belatung terus keluar dari matanya yang berlubang

bau busuk menyebar ke penjuru kota

ada yang meledak lagi di udara
ada yang meledak

sepertinya kita harus belajar menutup telinga
atas segala kebohongan yang ditularkan media
kita juga harus belajar mengakhiri semua dengan mata terpejam
dan melihat dengan hati murka



Madura,  2005-2013

TELUSUR

Loading...