WAKTU

JEDA

Kamis, 19 Juni 2014

" Cerita Tentang Sebuah Ledakan"

" Cerita Tentang Sebuah Ledakan"


ada yang meledak di udara
ada yang meledak

orang orang menutup mata
lalu mendongak ke angkasa

jalanan runtuh, gedung-gedung melepuh
orang orang melihat tuhan dari lubang sedotan yang jauh

seorang kepala negara mencungkil sepasang matanya
lalu jumpa pers dimulai;

"tak ada yang perlu ditakutkan. kemiskinan menurun dalam angka statisitik"

dia berbohong. dia berbohong.

di luar istana jutaan orang saban hari kelaparan.
di luar istana jutaan orang tidur di kandang hewan

"percayalah kita aman. kita aman. kita bangsa besar yang berdaulat"

sekali lagi dia berbohong. dia berbohong 

ketakutan ditebarkan negara tiap hari
emas, perak dan nikel dijarah di Papua

minyak dan batubara dijarah di Sumatera
jutaan masyarakat hutan kehilangan tanahnya

belatung belatung terus keluar dari matanya yang berlubang

bau busuk menyebar ke penjuru kota

ada yang meledak lagi di udara
ada yang meledak

sepertinya kita harus belajar menutup telinga
atas segala kebohongan yang ditularkan media
kita juga harus belajar mengakhiri semua dengan mata terpejam
dan melihat dengan hati murka



Madura,  2005-2013

Selasa, 10 Juni 2014

Musim Coblosan!

Siapapun presidennya, minumnya tetap darah rakyat! ~ Tono, tukang tambal ban


“Tentukan pilihan presidenmu sekarang! Atau kau akan menyesal karena menjadi bagian dari para pengacau dan pecundang.” Kalimat itu pertama kali saya baca dari status BBm seorang teman. Ketika membaca itu sejenak saya tertegun. Segenting itukah? Sesakral itukah pemilu yang sebentar lagi akan digelar? Sejahat itukah golput hingga dituding para pengacau plus pecundang?

Beberapa hari lalu saya membaca berita tentang dua tukang becak yang berkelahi hanya karena saling ejek soal capres. Suto dan Saleh nama kedua tukang becak itu. Keduanya biasa mangkal di simpang empat Jalan Kemuning, Kelurahan Barurambat Kota, Kecamatan Pamekasan. Suto adalah pendukung capres Jokowi-Jusuf Kalla, sementara Saleh adalah pendukung Prabowo-Hatta Rajasa. Perkelahian itu diawali dengan saling hujat capres masing-masing.

Berita itu begitu mudah menyebar karena momentumnya tepat. Menjelang pemilu. Sepintas memang menjelang pemilu keadaan genting. Dukung mendukung membuat orang saling membenci dan berkelahi. Tapi benarkah? Tiba-tiba saya teringat perkataan Malcom X; “Jika kamu tidak peduli, koran akan membuatmu membenci orang-orang yang sedang tertindas, dan mencintai orang-orang yang melakukan penindasan”

Kelas menengah mungkin akan menertawai ‘kegoblokan’ dua tukang becak itu. Kita mencibirnya di fesbuk dan twitter. Menertawainya sebagai kekonyolan. Tanpa pernah mau peduli apakah berita itu hanya dibuat untuk membenarkan opini bahwa tiap pemilu suasana politik selalu panas. Berita rumah terbakarpun bahkan jika dibumbui karena pemiliknya lalai karena sedang berdebat dengan tetangga lainnya soal capres bisa jadi headline. Dan makin sempurnalah penderitaan tukang becak itu. Kere, berkelahi karena urusan sepele (capres). Diberitakan. Kemudian dicibir seantero jagad nusantara. Menyenangkan ya!? Yang memberitakan puas. Entah menipu atau kenyataan tak ada yang tahu. Yang membaca berita puas. Kesemuanya memenuhi selera pasar masyarakat Indonesia yang suka menertawai yang tertindas lewat acara reality show. Klop.

Selang beberapa hari setelah ramai berita tukang becak berkelahi itu, debat capres cawapres digelar. Tidak di jalanan. Tapi di gedung megah. Tidak ada adu jotos seperti berita tukang becak tadi. Hanya ada argumen laiknya seorang intelektual gedongan. Usai acara itu dinding fesbuk saya ramai memberi skor hasil debat. Ramai mengomentasi tiap detail jawaban para capres-wapres yang diusungnya. Sesekali nyentil pendukung capres saingannya. Saya tidak menonton. Saya memilih tidur. Karena saya memang tak berminat dengan debat itu. Barangkali jika ada debat capres melawan golput saya akan meluangkan waktu untuk menontongnya. Kapan ya? Entahlah.

Lalu apa hubungannya tukang becak berkelahi dengan debat capres di gedung sarbini? Kita diberi kesan bahwa kelas menengah kita yang intelektual itu cocok untuk memimpin negeri ini. Siapapun pemimpinnya. Terimalah dengan tangan terbuka siapapun pemenangnya. Jangan lagi berharap pada perjuangan kelas dan kekuatan buruh dan proletariat karena mereka tidak pernah siap menghadapi kenyataan demokrasi ini. Mereka kasar. Gampang berkelahi di jalanan. Media seakan hendak membentuk opini masyarakat agar sama sekali tidak mempercayai kelas buruh. Kesan ini mengingatkan saya pada penyataan teman saya di status BBmnya. “Memilih netral atas nama rasa marah, kecewa atau berdasarkan ideologi dan keyakinan politik apapun sama sekali berbahaya. Ada yang mengancam di ujung sana. Sebuah bahaya; kembalinya rejim militeristik di Indonesia” begitu urainya.

Kawan “kiri’ saya itu seakan-akan hendak berkata bahwa tidak ada pilihan lain. Untuk membendung gelombang datangnya militerisme di Indonesia kita harus berpihak, mendukung salah satu calon yang lebih progresif. Meskipun (dengan kalimat yang berat) liberal dan kapitalistik.

Berpihak pada salah satu diantara dua capres yang ada? Saya berpikir keras. Kawan saya itu sedang bicara politik atas kepentingan dirinya sendiri atau rakyat? Saya menduga banyak kelas menengah berbicara pemilu dan mendukung salah satu calon capres atas nama rakyat cuma sebuah pelarian untuk melanggengkan kenyamanan ekonomi yang telah ia nikmati sepanjang tahun hidupnya meski telah berganti-ganti kepala negara. Jangan-jangan olok-olok dan caci maki antar pendukung capres yg berlaga saat ini di berbagai sosial media yang hiruk-pikuknya kadang melebihi supporter bola hanya sebuah ilusi untuk menutupi kenyataan  bahwa di luar gadget mereka ada pertarungan kelas yang tengah terjadi. Pertarungan yang begitu keras sekaligus sunyi. Ah..semoga dugaan saya salah dan cuma imajinasi di sela-sela berpikir tadi. Diantara upaya saya berpikir itu, tiba-tiba melintas bayangan poster-poster kampanye yang masih menampilkan muka-muka lama dengan wajah belepotan darah rakyat dan dosa masa lalu dan tak kunjung “diberi ganjaran sesuai rasa keadilan.” Di poster-poster itu tersenyum para pelanggar HAM, pembuat “bencana” nasional, menteri penjilat atasan, dan hal lainnya membikin rasa kemanusiaan pengen mencret rasanya.

Mereka para capres dan pendukungnya itu semua boleh teriak anti korupsi, sekencang-kencangnya. Sekeras-kerasnya. Pakek toa masjid se antero nusantara jugak nggak apa-apa. Suka-suka merekalah. Tapi jika partai pengusungnya belum berani transparan soal dana kampanye itu namanya lawakan demokrasi. Lawakan transparansi. Bukankah lumrah kalau kontes presiden maupun anggota legislatif pasti ada saweran dari luar? Ya certain dong sejujur-jujurnya atas nama transparansi yang diucapkan mulut dan lidahnya sendiri itu.

Tapi nyatanya kontes presiden dan anggota legislatif, meski banyak yang ingin tahu sumber dana kampanyenya, justru rapat tertutup. Singit-singitan. Sembunyi di balik mulut-mulut lapar menganga. Masa sih cuma dari patungan anggota partai? Dan pemberi saweran itu tentu bukan tanpa pamrih kan? Hari gini gitu loh, mana ada yang gratis sih? Berak di terminal saja bayar! Tak perlu normatif lah, serba lumrah kok.

Belum lagi cerita-cerita kecurangan sepanjang pesta demokrasi. Ada cerita satu desa tidak mencoblos karena surat suara sudah dihendel kepala desa. Jadi kepala desa dan kroni-kroninya yang mencoblos. Cerita tentang suara yang hilang saat penghitungan di tingkat kecamatan dan kabupaten. Meski cerita-cerita itu telah banyak masyarakat liat sendiri dengan mata kepalanya sendiri, entah mengapa mereka masih rela berduyun-duyun ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), meninggalkan pekerjaannya yang penting cuma untuk berpanas-panas dalam antrian, mirip kelas menengah ibukota menyambut gadget baru dengan harga diskonan. Merepotkan. Padahal dengan makin maraknya hape, khan cukup memilih lewat sms. Lebih murah, lebih hemat. Toh upaya kecurangannya bisa lebih canggih. Toh sama-sama curang tho. Toh juga hasil akhirnya cuma voting.

Dan yang paling ironis dalam pesta demokrasi bernama pemilu ini, rakyat memilih cuma lima menit untuk lima tahun. Bahwa setelah lima menit pengambilan suara itu, rakyat tak lagi bisa bersuara untuk lima tahun ke depan, karena telah diambil suaranya. Rakyat, kata yang akhir-akhir ini begitu keramat bahkan oleh para pembencinya sendiri, harus menunggu lima tahun untuk bisa menggunakan suaranya lagi. Kalaupun bisa menggunakan suaranya sebelum lima tahun, itupun harus melalui demo dan aksi jalanan yang kadang malah mendapat cibiran dan cacian. Paling parah dipentungi dan ditembaki aparat. Sementara mereka yang dipilih untuk menentukan “nasib bangsa” kualitasnya masih serba entah. Serba hitam. serba gelap. Makanya menyebarlah kampanye hitam di mana-mana.  Oya, satu lagi. Tak ada pula kartu garansi. Pemenang kontes lima tahunan ini tak disertai kartu garansi, tak bisa di-recall kembali jika mengecewakan. Padahal lima tahun bukan waktu yang pendek. 

Jadi siapapun presidennya rakyat akan tetap menghadapi ancaman. Kesehatan mahal, pendidikan mahal, pengangguran meningkat, kemiskinan meningkat, upah murah di mana-mana. Anak putus sekolah di mana-mana. Pengusiran masyarakat adat demi eksploitasi tambang di mana-mana. Penggusuran pemukiman miskin (setelah digusur dibangun mall dan hotel mentereng). Sebab sistem ekonomi yang diterapkan masihlah sistem ekonomi kapitalistik. Kunjungan para capres kepada para tani dan buruh hanyalah untuk mencari simpatik. Ujungnya untuk mendulang suara dari tani dan buruh. Tapi tak akan pernah memberikan jaminan peningkatan kesejahteraan tani dan buruh.

Tapi benarkah tidak ada pilihan lain? Cuma ABG unyu-unyu yang menganggap setelah demokrasi pemilu semua jalan hanya jalan buntu. Tak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. Negara cuma alat. Demokrasi pemilu cuma alat melanggengkan mereka yang berkuasa atas Negara. Karena cuma alat, harusnya tak perlu terlalu unyu-unyu dengan negara. Seperti hp, kalau negara rusak, ya diperbaiki. Kalau tak bisa diperbaiki lagi, ganti baru saja, gitu aja kok repot. Yang merasa repot dan kebakaran jembut kan yang berkepentingan, penguasa, pemodal dan mereka yang sudah pernah menikmati nyamannya jadi penguasa atau yang nyaman berdiri di kaki kekuasaan yang bakal bernasib sial bakal ikut diganti kalo negara diganti. Rakyat mana bisa diganti? Memangnya mau diganti pakai apa? Tiang bendera?

Karenanya yang dibutuhkan hari-hari ini adalah penguatan basis gerakan kaum buruh dan tani. Tak perlu ikut hiruk pikuk pemilu yang cuma sekedar reality show kaum penguasa. Jalan politik bukan cuma pemilu saja. Semua yang menyangkut kekuasaan dan hajat hidup orang banyak adalah tindakan politik Sementara penguasa kapitalistik negeri ini tak bisa menjamin roti dan perdamaian yang adil dan merata bagi seluruh rakyatnya tanpa memandang kelas. Namun tak ada jalan pintas untuk mengubah keadaan. Apalagi  hanya dengan melompat-lompat partai. Perlu mentalitas dan kedisiplinan tingkat akut untuk menguatkan gerakan. Tanpa kekuatan basis gerakan progresif, buruh,  tani, nelayan, kaum miskin kota akan kehilangan momentum revolusinya. Dan makin gampang dicabik-cabik kaum penguasa kala mereka sudah kehilangan akal menghadapi kebuntuan-kebuntuan ekonomi dengan melepas gerombolan anjing gilanya.

Ingatlah selalu. Waktu begitu pendek. Dan mereka yang menyesal adalah mereka yang menyia-nyiakan waktu. Selamat memilih! Saya memilih piknik!



Senin, 19 Mei 2014

Perjalanan ke Pulau Mandangin


Perjalanan ke Pulau Mandangin

”Hidup begitu pendek.
Agar nampak panjang, kita mengisinya dengan perjalanan dan mabuk laut”


            Kalau anda mabuk laut, sementara air laut sedang meninggi disertai angin kencang, jangan ke Pulau Mandangin! Percayalah, anda akan muntah-muntah. Sebab tak ada jalur lain untuk menuju pulau Mandangin selain dengan perahu motor yang memakan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan dari Pelabuhan Tanglok, Sampang, Madura. 

            Tapi jangan menunggu sampai ada jembatan yang menghubungkan pulau yang luasnya hanya sekitar 1,65 kilometer persegi itu dengan Kabupaten Sampang seperti laiknya jembatan Suramadu. Sampai lebaran monyetpun nggak akan terwujud. Sebuah pulau bisa dibangun jembatan jika memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Dan bisa dikeruk isi buminya oleh investor dan pemodal, memiliki potensi tenaga kerja yang murah untuk diekploitasi dan sumber daya alamnya melimpah untuk dihisap sampai isi tulang sumsumnya tak ada lagi. Mandangin tak memiliki itu. Penduduknya hanya 18.000 jiwa. Mandangin cuma desa di Kecamatan Sampang. Rumah-rumah berderet padat. Jalanan sempit. Tak ada mobil mewah berkeliaran seperti di Jakarta. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai nelayan. Kecuali Pulau yang juga dikenal dengan nama pulau Gili dijual pada pengusaha dan disulap menjadi pulau wisata dengan omzet miliaran per tahun, maka akses jembatan ke pulau Mandangin akan jadi kenyataan. Tapi keindahan alamnya layak dkagumi.

            Saya sendiri saja yang sudah tinggal kurang lebih 16 tahun di Kabupaten Sampang baru kali pertama ke pulau yang juga dinamai pulau Kambing itu. Bersama seorang kawan bernama Maman Regal, saya berangkat ke pulau yang di masa orde baru menjadi tempat pembuangan orang-orang pengidap penyakit lepra. Lepas dhuhur kami menaiki kapal motor bernama “Dermaga Baru” dari Pelabuhan Tanglok, Sampang. Ongkosnya tak mahal. Cukup Rp. 7.500,- per kepala. Dan anda akan menikmati panorama laut selama satu setengah jam perjalanan. Itupun kalau air laut sedang tenang. Kalau air laut sedang tidak bersahabat, bersiaplah menderita. Kapal motor diombang-ambingkan gelombang. Kadang tempias air laut bisa sesekali mengenai wajah. Kepala puyeng dan muntah. Kawan saya saja yang tumbuh dan besar di pulau itu masih sering mabuk laut kok waktu naik kapal motor dan  kondisi laut sedang garang. Tapi hari itu air begitu tenang. Kapal motor bergerak dengan santai. Nyaris tanpa goncangan gelombang. Hanya bising mesin perahu yang cukup mengganggu pendengaran. 

Selama sehari semalam tinggal di pulau yang juga dinamai pulau Kambing (dinamai begitu karena memang banyak kambing berkeliaran di jalan-jalan sekitar pulau siang dan malam) nyaris tak saya temukan mobil. Yang banyak justru motor. Rata-rata sih keluaran terbaru. Berkendara motor di pulau ini tak perlu pakai helm. Sebab memang tak ada polisi. Tak ada razia polisi sebab tak ada kantor polsek. Makanya jangan heran kalo kebanyakan motor di pulau ini tak berplat nomor. Yang banyak justru polisi tidur yang terbuat dari tali tambang perahu yang tak lagi terpakai. Hampir di setiap jalan/gang ada lebih dari satu pemasangan polisi tidur. Tapi yang namanya polisi, baik itu polisi jaga atau polisi tidur memang kadang sama-sama bikin susah. 
 Selain tak ada polsek juga tak ada pasar. Karena transaksi perdagangan dilakukan di halaman rumah masing-masing penduduk, terutama pagi hari sepulang kepala keluarga melaut. 

Suasana "pasar" ikan di halaman rumah warga Mandangin.

Pertama kali menginjakkan kaki di pulau yang olah raga asli masyarakatnya bernama yoryor itu sekitar pukul 14.00 WIB. Sebagaimana umumnya suasana siang di Madura, saya melihat anak-anak mendekap kitab untuk belajar agama di madrasah. Istirahat sejenak di rumah kawan saya. Merebahkan punggung dan makan. Tujuan saya ke pulau yang menurut mitos tempat terbunuhnya Bangsacara oleh Bangsapati suruhan Raja Bidarba yang ingin merebut kembali Ragapatmi (mantan istrinya) yang sudah sembuh dari penyakit kulitnya yang mengerikan adalah mengabadikan senja. ”Senjanya begitu indah bro. juga hamparan pasir putih di pantainya.” Begitu promosi kawan saya itu beberapa tahun silam.
Sekitar pukul 16.30 WIB seorang kawan lagi bernama Umar Faruk menjemput kami dengan motornya. Bertiga kami berboncengan menuju pantai pasir putih yang letaknya tak jauh dari rumah Maman Regal. Di Pantai Pasir putih saya mengambil beberapa gambar. Tak terlalu menarik menurut saya. Mungkin karena sore itu matahari belum benar-benar turun di garis horizon. 

Gugusan perahu di pantai pasir putih, Kampung Mandangin Barat.

Pantai Pasir putih kampung Mandangin Barat
Kemudian Faruk mengajak untuk menuju pantai Candhin yang letaknya di Kampung Mandangin Timur. Kami setuju. Lalu motor digeber menuju Candhin. Cukup melelahkan. Karena kami melewati banyak polisi tidur. Satu motor bertiga pula. Berkali-kali saya harus mengusap-usap pinggang saya karena nyeri. Sekitar 15 menit berkendara akhirnya sampai di pantai Candhin. Saya memotret. Faruk memotret. Langit senja pantai Candhin diselimuti gugusan mendung. ”Maklum semalam baru saja turun hujan lebat” ujar Faruk sambil memotret. 

Senja di Pantai Candhin, Mandangin Timur. Dok. Pribadi

Setelah puas mengambil gambar dari daratan tertinggi di pantai itu, kami langsung turun ke pantai. Matahari sudah tenggelam. Tapi semburat warna senja terus menunjukkan keindahannya. Saya mengeluarkan tripod. Memasangkan kamera saya. Lalu memotret lagi. Usai adzan maghrib kami baru meninggalkan pantai. Lumayan berkeringat, karena kami harus menaiki bukit tempat motor Faruk di parkir.

Pantai Candhin, Kampung Mandangin Timur

Jalanan di pulau Mandangin menuju pulang ke rumah Maman begitu gelap. Menurut cerita Faruk sudah hampir satu bulan PLN padam di pulau ini. ”Nyalanya bergiliran. Malam ini giliran kampung saya. Besok malam kampung Maman menyala” cerita Faruk. Isu diluaran listrik Mandangin padam karena unsur politik. Sebab sebelumnya tak pernah padam listrik. ”Usai pilihan caleg ini listrik di sini jadi padam sampai satu bulan” ujar seorang warga. Saya jadi ingat suasana tahun 1999. Ketika Madura padam. Kabarnya kala itu, serat fiber PLN bawah laut terkena jangkar kapal. Menyusahkan memang. Saat itu di Jakarta sedang ramai sidang istimewa MPR dan rencana penurunan Gus Dur sebagai presiden RI yang sah. Sementara tokoh-tokoh ulama Madura mengultimatum, jika Gus Dur lengser, Madura merdeka. 

Malam itu saya dan keluarga Maman Regal makan dengan suasana gelap gulita. Hanya di terangi lampu teplok dibantu dengan cahaya senter dari hape saya. Setelah itu kami tidur. Saya dan Maman berencana untuk menuju Candhin lagi esok hari. Mengabadikan matahari terbit tepat di hari dimana penganut Budha merayakan Waisak tahun 2014. 

Ternyata kami bangun kesiangan. Ibu kawan saya sudah tak ada di rumah. ke pinggir pantai menunggu suaminya pulang dari melaut. Tapi saya memutuskan untuk tetap berangkat ke Candhin. Dan Maman setuju. Maka kami berdua berjalan kami ke tempat kemarin waktu kami memotret senja. Melelahkan. Karena jarak yang ditempuh kurang lebih dua kilometer. Sampai di sana kami dihadang hujan. Sementara matahari sudah meninggi. Tapi tak kelihatan karena ditutupi mendung. Saya tetap mengambil gambar. Kemudian kembali ke rumah Maman dengan kembali berjalan kaki. Saya tak mau kesiangan dan ketinggalan kapal. 

Mendung pagi di Pantai Candhin, Kampung Mandangin Timur
Masih Pemandangan pagi di Pantai Candhin, Kampung Mandangin Timur. cuma geser dikit aja dari view diatas

Perjalanan pulang dari Mandangin ternyata tak kalah melelahkan. Siang itu, laut pasang. Maklum semalam purnama. Dan gelombang tinggi. Angin juga cukup kencang. Berkali-kali tempias air laut mengenai wajah saya. Karena kepala mulai pening karena diombang-ambingkan gelombang saya memutuskan rebahan di buritan. Memejamkan mata. Ternyata Maman teman saya sudah lebih dulu terlelap. Untuk menghindari mabuk laut katanya. Sementara saya sudah berkali-kali mual. Tapi untunglah tak sampai muntah. 

Sampai di Sampang sekitar pukul 13.00. Goyangan kapal motor dihempas gelombang laut ternyata masih terasa di tubuh saya hingga saya hendak tidur malam. Tapi pengalaman memang tak bisa dibeli dengan apapun. Dan untuk anda yang mau berwisata ke Madura, alangkah rugi jika tidak menikmati senja dan fajar di pulau Mandangin. Tapi kalau anda berniat liburan bersama keluarga, sebaiknya mencari kenalan penduduk Mandangin. Karena di Mandangin tak ada hotel.


TELUSUR

Loading...